Terakhir diperbarui: 13/07/2026
Komputasi serverless adalah model eksekusi cloud computing yang mengalokasikan resource komputer sesuai penggunaan. Dengan model serverless, developer dapat membangun dan menjalankan aplikasi tanpa harus mengelola server apa pun dan hanya membayar sesuai jumlah resource yang digunakan. Sebaliknya, penyedia layanan cloud bertanggung jawab untuk menyediakan, mengelola, dan menskalakan infrastruktur cloud yang menjalankan kode aplikasi.
Komputasi serverless, meskipun namanya demikian, tetap menggunakan server. Komputasi serverless menyederhanakan pengembangan aplikasi dengan mengabstraksi tugas infrastruktur rutin. Artinya, Anda tidak melihat, mengonfigurasi, mengelola, atau menskalakan mesin yang mendasari aplikasi Anda. Pada dasarnya, Anda membayar layanan server, bukan server itu sendiri.
Dari perspektif pengembangan, seolah-olah tidak ada server sama sekali — developer menulis kode, men-deploy kode ke produksi, dan penyedia cloud akan menangani sisanya.
Dalam cloud computing serverless, umumnya ada dua jenis layanan: Function as a Service (FaaS) dan Backend as a Service (BaaS).
Dalam pengembangan, istilah “serverless” biasanya digunakan untuk menggambarkan penawaran FaaS. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa FaaS secara teknis merupakan subset dari teknologi serverless. Komputasi serverless mencakup semua jenis layanan di mana pengelolaan, konfigurasi, penskalaan, dan penagihan server diabstraksi dari pengguna akhir. Hal ini dapat mencakup database, penyimpanan, streaming peristiwa, pengiriman pesan, dan gateway API.
Dalam hal membangun aplikasi, developer biasanya memiliki sejumlah tugas pengelolaan server lain yang harus mereka lakukan untuk men-deploy kode, seperti menentukan resource untuk pemrosesan dan penyimpanan, patching, load balancing, dan banyak lagi. Semua item tambahan ini menyebabkan waktu penyediaan yang lebih lama dan overhead operasional tambahan yang pada akhirnya memperlambat tim pengembangan.
Komputasi serverless berupaya memberikan pengalaman "serverless" yang tidak terlihat bagi developer, sehingga tidak perlu memikirkan server atau hal apa pun yang mungkin perlu dijalankan oleh aplikasi. Sebagai gantinya, penyedia layanan melakukan semua pekerjaan di balik layar untuk memastikan Anda memiliki resource untuk mengeksekusi kode dan memenuhi persyaratan tanpa dikenai biaya untuk kapasitas yang tidak memiliki aktivitas.
Anggaplah serverless seperti mengalirkan air ke rumah Anda. Anda bisa menggali sumur Anda sendiri, menguji kualitas air, serta memasang dan memelihara semua saluran air luar yang diperlukan untuk mengalirkan ke dalam rumah. Atau, Anda dapat terhubung ke sumber air utama kota Anda. Anda cukup memutar keran air dan mendapatkan air sebanyak yang Anda inginkan tepat saat Anda membutuhkannya, dan pemerintah kota akan mengirimkan tagihan bulanan untuk jumlah air yang Anda konsumsi.
Demikian pula, penyedia cloud secara otomatis menjalankan resource infrastruktur dan lingkungan runtime yang diperlukan untuk mengeksekusi aplikasi serverless Anda dan secara otomatis menurunkan skala ke nol saat eksekusi selesai. Biasanya, Anda ditagih berdasarkan resource selama waktu eksekusi. Namun, hal ini dapat bervariasi tergantung pada layanan dan vendornya.
Namun tunggu dulu, bukankah jenis cloud computing lainnya menyediakan resource sesuai permintaan dengan metode bayar sesuai penggunaan? Memang benar bahwa model layanan cloud seperti Infrastructure as a Service (IaaS) dan Platform as a Service (PaaS) juga menyediakan akses on-demand ke resource komputasi.
Namun, infrastruktur cloud yang dialokasikan untuk Anda akan tetap aktif meskipun Anda tidak menggunakannya. Anda juga bertanggung jawab untuk meningkatkan kapasitas server atau mengonfigurasi aplikasi untuk meningkatkan atau mengurangi skala sebagai respons terhadap permintaan pengguna.
Arsitektur serverless bersifat berbasis peristiwa. Pada model ini, penyedia hanya memberi Anda resource saat suatu peristiwa memicu kode Anda untuk berjalan dan akan diskalakan secara instan dan otomatis ke permintaan.
Fitur | Serverless | PaaS | Container | VM |
Beban administratif | Minimal | Sedang | Sedang hingga tinggi | Tinggi |
Model biaya | Bayar per penggunaan | Bayar per instance | Bayar per container | Bayar per VM |
Persyaratan pemeliharaan | Tidak ada | Rendah | Sedang | Tinggi |
Skalabilitas | Otomatis dan instan | Penskalaan otomatis atau manual | Penskalaan otomatis atau manual | Penskalaan otomatis atau manual |
Stateless | Biasanya stateless | Dapat berupa stateful atau stateless | Dapat berupa stateful atau stateless | Dapat berupa stateful atau stateless |
Fitur
Serverless
PaaS
Container
VM
Beban administratif
Minimal
Sedang
Sedang hingga tinggi
Tinggi
Model biaya
Bayar per penggunaan
Bayar per instance
Bayar per container
Bayar per VM
Persyaratan pemeliharaan
Tidak ada
Rendah
Sedang
Tinggi
Skalabilitas
Otomatis dan instan
Penskalaan otomatis atau manual
Penskalaan otomatis atau manual
Penskalaan otomatis atau manual
Stateless
Biasanya stateless
Dapat berupa stateful atau stateless
Dapat berupa stateful atau stateless
Dapat berupa stateful atau stateless
Produktivitas developer yang lebih optimal
Developer yang didukung serverless berfokus pada penulisan kode dan pengoptimalan logika bisnis, bukan berfokus pada penyediaan, pengelolaan, atau penskalaan infrastruktur.
Skalabilitas siap pakai
Arsitektur serverless meningkatkan atau memperkecil skala secara inheren. Tidak seperti penskalaan otomatis di jenis cloud computing lain yang memerlukan aturan penyesuaian, penskalaan otomatis serverless bersifat instan dan dapat memperkecil skala ke nol.
Harga yang fleksibel
Model harga serverless sering kali dikenai biaya berdasarkan penggunaan sebenarnya dan waktu yang diperlukan untuk menjalankan fungsi. Anda juga tidak akan dikenakan biaya untuk kapasitas yang tidak beraktivitas, sehingga membantu menurunkan biaya operasional yang terkait dengan menjalankan dan mengelola server Anda sendiri.
Deployment yang lebih cepat
Komputasi serverless dapat membantu mengurangi hambatan definisi infrastruktur bagi tim DevOps dalam hal integrasi, pengujian, pengiriman, dan deployment. Tim DevOps kemudian dapat berfokus pada penulisan dan deployment kode langsung ke produksi.
Gunakan bahasa apa pun
Lingkungan serverless mendukung bahasa atau framework apa pun, sehingga tim dapat melakukan pengembangan dalam bahasa atau dengan framework yang paling nyaman digunakan, seperti Go, Python, Java, Node.js, .NET, dan masih banyak lagi.
Beberapa contoh komputasi serverless yang berkembang dan yang paling umum meliputi:
Menyinkronkan prospek/pelanggan dengan lancar di antara berbagai aplikasi bisnis (misalnya, CRM ke otomatisasi pemasaran).
Mengotomatiskan pembuatan dan distribusi laporan rutin.
Menghemat biaya cloud dengan mengidentifikasi dan mengelola resource komputasi nonaktif secara otomatis.
Memproses dan memperkaya data streaming bervolume tinggi (misalnya, aktivitas pengguna) untuk mendapatkan insight dan tindakan langsung.
Mengotomatiskan build, pengujian, dan deployment microservice saat ada perubahan kode.
Membuat varian gambar yang dioptimalkan (misalnya, thumbnail, dengan format yang berbeda) secara otomatis saat diupload.
Melakukan inferensi AI secara real-time menggunakan LLM terbaru.
Salah satu kelemahan terbesar dari komputasi serverless adalah teknologinya relatif baru. Akibatnya, belum cocok untuk memenuhi semua kasus penggunaan yang potensial.
Jelas bahwa beberapa kelemahan yang ada saat ini akan teratasi seiring waktu karena komputasi serverless terus berkembang. Secara khusus, banyak hal yang sudah dilakukan pada implementasi open source serverless dan mencari cara untuk menjadikan layanan cloud lebih terbuka agar solusi bersifat portabel di berbagai platform dan lingkungan.
Mulailah membangun solusi di Google Cloud dengan kredit gratis senilai $300 dan lebih dari 20 produk yang selalu gratis.