Apa itu database terkelola?

Database terkelola, yang juga disebut 'database as a service' (DBaaS) dan layanan database terkelola, adalah layanan berbasis cloud yang menyediakan penyediaan, penskalaan, pemeliharaan, dan pengoptimalan database. Hal ini berbeda dengan database yang dikelola sendiri, di mana tim IT atau tim pengembangan organisasi bertanggung jawab untuk tugas-tugas ini.

Dasar-dasar pengelolaan database

Infrastruktur database merupakan titik masalah bagi banyak bisnis. Karena hampir setiap karyawan berinteraksi dengan data pelanggan dan organisasi, memilih dan memelihara database yang tepat untuk kebutuhan aplikasi Anda adalah hal yang sangat penting. Praktik pemeliharaan terbaik adalah kunci untuk menjaga database Anda agar selalu tersedia dan berperforma baik.

Pengelolaan database mencakup tugas yang terbagi dalam tiga kategori:

  • Penyiapan: Menyediakan, mengonfigurasi, dan men-deploy database
  • Pemeliharaan: Mengamankan database, membuat cadangan, serta melakukan update dan upgrade
  • Pengoptimalan: Menskalakan database, memantau kondisinya, dan menyesuaikannya demi performa yang optimal

Pengelolaan database: Lokal versus cloud

Di mana pun lokasi database Anda, database tersebut dapat dikelola sendiri atau terkelola sepenuhnya. 

Berikut tampilan opsinya:

Jenis deployment

Lokasi hosting

Tanggung jawab manajemen

Manfaat utama

Potensi kekurangan

Infrastruktur lokal, dikelola sendiri

Lokal (infrastruktur internal)

Tim internal (semua penyiapan dan pemeliharaan)

Memberikan kontrol penuh atas konfigurasi hardware dan software serta memungkinkan pengelolaan residensi data yang ketat.

Memerlukan beban internal yang tinggi, tidak memiliki keamanan berbasis cloud, dan membatasi kemampuan pemantauan otomatis.

Database cloud, yang dikelola sendiri

Virtual machine (yang dihosting di cloud)

Tim internal (pengelolaan database)

Menghilangkan kebutuhan akan pemeliharaan infrastruktur fisik sekaligus mempertahankan kontrol internal atas mesin database.

Masih memerlukan tenaga kerja internal yang signifikan untuk tugas patching, penyesuaian, dan penskalaan manual database.

Layanan database terkelola

Layanan cloud

Penyedia layanan (hosting, operasional, pemeliharaan, tugas administratif)

Memberikan beban administratif yang rendah, meningkatkan fleksibilitas, dan memberikan akses ke keahlian keamanan dan pemantauan vendor cloud.

Memerlukan pengandalan pada platform penyedia dan set alat tertentu, yang dapat membatasi penyesuaian mendalam pada infrastruktur yang mendasarinya.

Jenis deployment

Lokasi hosting

Tanggung jawab manajemen

Manfaat utama

Potensi kekurangan

Infrastruktur lokal, dikelola sendiri

Lokal (infrastruktur internal)

Tim internal (semua penyiapan dan pemeliharaan)

Memberikan kontrol penuh atas konfigurasi hardware dan software serta memungkinkan pengelolaan residensi data yang ketat.

Memerlukan beban internal yang tinggi, tidak memiliki keamanan berbasis cloud, dan membatasi kemampuan pemantauan otomatis.

Database cloud, yang dikelola sendiri

Virtual machine (yang dihosting di cloud)

Tim internal (pengelolaan database)

Menghilangkan kebutuhan akan pemeliharaan infrastruktur fisik sekaligus mempertahankan kontrol internal atas mesin database.

Masih memerlukan tenaga kerja internal yang signifikan untuk tugas patching, penyesuaian, dan penskalaan manual database.

Layanan database terkelola

Layanan cloud

Penyedia layanan (hosting, operasional, pemeliharaan, tugas administratif)

Memberikan beban administratif yang rendah, meningkatkan fleksibilitas, dan memberikan akses ke keahlian keamanan dan pemantauan vendor cloud.

Memerlukan pengandalan pada platform penyedia dan set alat tertentu, yang dapat membatasi penyesuaian mendalam pada infrastruktur yang mendasarinya.

Strategi migrasi database

Database dapat dimigrasikan dari deployment lokal yang dikelola sendiri ke layanan cloud terkelola, biasanya untuk mendapatkan skalabilitas, fleksibilitas, keamanan, dan efisiensi biaya dari cloud. Migrasi biasanya dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut:

  1. Dalam satu langkah yaitu memigrasikan data Anda langsung dari database sumber ke layanan database terkelola
  2. Dalam dua langkah, pertama memigrasikan data Anda ke database yang dikelola sendiri di cloud dan kemudian memindahkannya di dalam cloud ke database yang terkelola sepenuhnya

Meskipun strategi migrasi database pertama lebih efisien, strategi kedua dapat bermanfaat bagi organisasi yang terdesak waktu untuk beralih ke cloud, misalnya karena masa sewa pusat data akan segera berakhir.

Otomatisasi database

Otomatisasi database telah berkembang dari melakukan tugas pemeliharaan rutin menjadi sistem agentic yang sepenuhnya otonom. Jika layanan sebelumnya berfokus pada patching, penyediaan, dan failover dasar, layanan database terkelola modern kini memanfaatkan agen AI tingkat lanjut untuk memantau dan mengoptimalkan seluruh siklus proses data secara proaktif.

Sistem cerdas ini membantu menganalisis pola penggunaan database secara real-time untuk memprediksi bottleneck performa, menyesuaikan kueri kompleks secara otomatis, dan melakukan pemulihan mandiri dari anomali sebelum memengaruhi operasi Anda. Dengan beralih dari otomatisasi berbasis aturan ke pengelolaan proaktif berbasis AI, layanan ini memungkinkan infrastruktur Anda beradaptasi secara dinamis terhadap workload yang berubah tanpa intervensi manual.

FAQ database terkelola

Layanan database terkelola dapat menyederhanakan operasi Anda, tetapi Anda mungkin memiliki pertanyaan tentang cara kerjanya di lingkungan dunia nyata. Berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan umum tentang layanan ini.

Layanan terkelola dapat membantu mengurangi biaya dengan menghilangkan pengeluaran modal yang terkait dengan pembelian dan pemeliharaan server fisik. Alih-alih membayar hardware di muka, Anda membayar daya komputasi dan penyimpanan yang sepenuhnya Anda gunakan, sehingga mendukung prediktabilitas keuangan yang lebih baik.

Selain itu, karena penyedia menangani pemeliharaan rutin, staf Anda dapat memfokuskan upaya mereka pada tugas-tugas bernilai tinggi seperti membangun fitur baru atau meningkatkan performa aplikasi. Perubahan fokus ini dapat meningkatkan produktivitas dan, pada akhirnya, meningkatkan laba atas investasi Anda.

Contoh database terkelola adalah layanan seperti Google Cloud SQL, yang menyediakan instance MySQL, PostgreSQL, dan SQL Server yang terkelola sepenuhnya. Layanan ini otomatis menangani patching, pencadangan, dan replikasi, sehingga memastikan database tetap tersedia dan berperforma tanpa intervensi manual dari tim Anda.

Sistem Pengelolaan Database (DBMS) adalah software yang berada di antara database dan pengguna atau aplikasinya, yang menyediakan antarmuka yang diperlukan untuk membuat, mengambil, mengupdate, dan mengelola data. Ada banyak jenis DBMS. Berikut adalah beberapa kategori yang paling populer: 

  • Relasional (RDBMS): Sistem ini mengatur data ke dalam baris dan kolom yang telah ditentukan sebelumnya dalam tabel. Database relasional cocok untuk aplikasi yang memerlukan konsistensi kuat, seperti sistem keuangan atau pengelolaan inventaris.
  • NoSQL: Dirancang untuk menangani data tidak terstruktur atau semi-terstruktur, database ini menawarkan fleksibilitas untuk aplikasi yang berkembang pesat. Database ini sering digunakan untuk pengelolaan konten, analisis real-time, dan aplikasi big data.
  • Berbasis cloud: Alat ini dibuat khusus untuk lingkungan cloud. Database ini memanfaatkan arsitektur terdistribusi untuk memberikan skala tak terbatas, konsistensi global, dan ketersediaan tinggi, sehingga cocok untuk aplikasi modern berskala besar.
  • DBMS berorientasi objek: Sistem ini merepresentasikan data sebagai objek, mirip dengan pemrograman berorientasi objek. Database ini sangat cocok untuk aplikasi yang melibatkan struktur data kompleks, seperti file multimedia, sistem CAD, atau software rekayasa khusus.
  • Database hierarkis: Jenis ini memodelkan data dalam struktur seperti pohon, di mana setiap kumpulan data memiliki satu induk dan dapat memiliki beberapa turunan. Meskipun kurang umum dalam pengembangan web modern, database ini sangat efisien untuk data dengan hubungan one-to-many yang sederhana, seperti sistem file atau struktur data XML.

Perbedaan utamanya terletak pada siapa yang mengelola beban operasional. 

Dalam database yang tidak terkelola, tim IT Anda harus menangani penginstalan, update, penyesuaian performa, dan pemeliharaan hardware secara manual.

Sebaliknya, database terkelola mengalihkan tanggung jawab ini kepada penyedia layanan cloud. Penyedia mengotomatiskan tugas-tugas seperti pemantauan, pencadangan, dan patching software, sehingga tim Anda dapat berfokus pada pengembangan aplikasi, bukan pengelolaan infrastruktur.

Organisasi mungkin memilih database terkelola untuk meningkatkan fleksibilitas, keandalan, dan skalabilitas tanpa perlu berinvestasi besar-besaran pada staf administrasi database khusus. Solusi ini dapat menjadi pilihan ideal bagi perusahaan yang ingin berfokus pada logika bisnis dan inovasi, bukan pada "pekerjaan berat yang tidak terdiferensiasi" dalam mengelola infrastruktur.

Manfaat database yang terkelola sepenuhnya

Database berbasis cloud yang terkelola sepenuhnya membantu Anda meningkatkan pertumbuhan sekaligus menghilangkan kerumitan yang harus dilakukan tiap hari dalam menjaga database agar berjalan optimal. Beberapa manfaatnya antara lain: 

Mudah digunakan

Penyedia database terkelola bertanggung jawab atas semua tugas operasional, pemeliharaan, dan pengelolaan administratif, sehingga tim Anda tidak perlu lagi menangani tugas-tugas ini.

Ketersediaan tinggi

Database terkelola terus dipantau dan dioptimalkan untuk ketersediaan terbaik, biasanya dengan perjanjian tingkat layanan (SLA) sebagai jaminan. 

Skalabilitas lebih baik

Tingkatkan skala database Anda dengan mudah saat Anda memerlukan kapasitas lebih besar, tanpa perlu membeli server tambahan. Dalam beberapa kasus, database Anda dapat diskalakan secara otomatis, berdasarkan permintaan aplikasi.

Keamanan yang ditingkatkan

Database terkelola dapat memberikan fondasi keamanan yang lebih kuat dengan mengintegrasikan threat intelligence real-time, deteksi anomali otomatis, dan sertifikasi kepatuhan komprehensif seperti SOC 2, HIPAA, dan GDPR. Layanan ini juga menawarkan tata kelola AI tingkat lanjut untuk melacak silsilah data dan menerapkan kebijakan akses terperinci, sehingga memastikan informasi Anda tetap aman.

Menurunkan biaya operasional

Skala ekonomi cloud umumnya menghasilkan biaya operasional yang lebih rendah, dan penyedia cloud akan membebaskan Anda dari beban konstruksi dan pemeliharaan pusat data. 

Otomatisasi yang disempurnakan

Database terkelola modern tidak hanya melakukan otomatisasi sederhana, seperti melakukan update atau beralih ke cadangan, karena kini database tersebut dapat menggunakan agen AI canggih untuk membantu mengelola sistem. Sistem ini terus memantau penggunaan database, memperkirakan potensi perlambatan, dan dapat memperbaiki kueri secara otomatis.

Cara memilih layanan database terkelola

Memilih layanan database terkelola yang tepat membantu bisnis Anda tetap fleksibel sekaligus memastikan data Anda tetap aman dan dapat diakses. Untuk membuat keputusan terbaik bagi organisasi Anda, ikuti langkah-langkah berikut ini guna mengevaluasi kebutuhan dan calon partner Anda.

1. Menentukan persyaratan bisnis Anda

Langkah pertama adalah memilih jenis database cloud yang tepat untuk tujuan bisnis spesifik Anda. Kebutuhan aplikasi, keterampilan tim pengembangan, serta kebutuhan AI dan analisis data Anda akan membantu menentukan mesin database yang tepat.

2. Melakukan riset calon penyedia

Langkah berikutnya adalah memilih penyedia yang menawarkan layanan terkelola sepenuhnya untuk mesin database yang telah Anda pilih. Cari tahu rekam jejak penyedia terkait keamanan, keandalan, dan pengalaman di industri Anda. Pastikan penyedia dapat menyesuaikan skala untuk pertumbuhan Anda di masa depan, dan tanyakan apakah ada penawaran layanan profesional dan insentif keuangan untuk melakukan migrasi ke layanan database mereka. 

3. Mengevaluasi kemampuan teknologi

Kemampuan teknologi penyedia cloud berbeda-beda. Carilah penyedia yang memperlakukan database sebagai fondasi yang "siap AI". Layanan ini harus mendukung data multi-model secara native seperti embedding terstruktur, tidak terstruktur, dan vektor, serta menyediakan konteks latensi rendah yang diperlukan agar agen AI dapat bekerja secara efektif.

4. Merencanakan strategi migrasi Anda

Setelah memilih penyedia, pertimbangkan opsi migrasi database Anda. Meskipun migrasi membutuhkan waktu dan biaya, peningkatan efisiensi, keandalan, skalabilitas, fungsionalitas, dan keamanan menjadikannya investasi yang sepadan.

Tantangan database yang dikelola sendiri

Karena database sangat penting bagi operasi bisnis, database harus memberikan performa yang memadai dan waktu non-operasional yang sangat terbatas. 

  • Tanggung jawab pengelolaan yang lebih besar: Dengan database yang dikelola sendiri, tim internal Anda bertanggung jawab atas semua tugas pengelolaan dan pemeliharaan. Sulit untuk menemukan administrator database dengan kualifikasi yang tepat untuk mengelola database tingkat perusahaan.
  • Investasi waktu yang lebih tinggi: Pengelolaan mandiri memerlukan investasi waktu yang signifikan. Seiring waktu, pengelolaan mandiri database akan menimbulkan biaya yang lebih tinggi dan peluang terjadinya error, melebihi dan di luar biaya peluang yang dihilangkan dari inovasi. 
  • Peningkatan investasi resource: Untuk solusi lokal, peningkatan kebutuhan komputasi, penyimpanan, atau jaringan mungkin memerlukan resource hardware tambahan. Tergantung pada jenis database, peningkatan volume transaksional akan memerlukan pengoptimalan untuk mempertahankan performa.

Langkah selanjutnya

Mulailah membangun solusi di Google Cloud dengan kredit gratis senilai $300 dan lebih dari 20 produk yang selalu gratis.

Google Cloud